Harap jangan kaget dulu dengan judul tip berikut ini. Selain untuk menggairahkan semangat kamu dalam membaca tip ini, juga ingin menjelaskan bahwa jenis tulisan feature paling banyak disukai para wartawan. Bener lho. Itu sebabnya, kalo seorang wartawan diminta untuk memaparkan sebuah peristiwa dengan gaya penulisan feature biasanya paling sregep deh. Bukan apa-apa, sebab dalam tulisan jenis ini, wartawan dirangsang untuk mengeksplorasi sudut-sudut human interest-nya. Misalnya saja ketika memberitakan peristiwa kebakaran di Pasar Tanah Abang beberapa waktu yang lalu, kita tidak hanya bicara tentang peristiwa kebakarannya, tapi kita sisipkan juga berita tentang nasib seorang pedagang yang barang dagangannya ludes dilalap si jago merah. Itu akan lebih memberikan sentuhan tersendiri bagi si pembaca. Tentu, untuk membuatnya menarik, kudu ditulis dengan gaya penulisan feature.
BTW, dari tadi ngomongin feature, definisinya apa sih? He..he..he.. oke deh, sebenarnya rada sulit kalo kudu menjelaskan definisi mutlak tentang feature. Tapi, saya coba jelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan feature ini. Saya kutipkan pendapatnya Kang Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya “Jurnalistik Praktis”, dikatakan bahwa batasan pengertian (definisi) feature, para ahli jurnalistik belum ada kesepakatan. Masing-masing ahli memberikan rumusannya sendiri tentang feature. Jadi, tidak ada rumusan tunggal tentang pengertian feature. Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H dan bisa dibedakan dengan news, artikel (opini), kolom, dan analisis berita. “Kita punya kisah atas fakta-fakta telanjang,” kata William L Rivers, “dan itu kita sebutkan sebagai ‘berita’. Disamping berita kita jumpai lagi tajuk rencana, kolom, dan tinjauan, yang kita sebutkan ‘artikel’ atau ‘opinion pieces’. Sisanya yang terdapat dalam lembaran surat kabar, itulah yang disebutkan karangan khas (feature).
Kang Asep Syamsul M. Romli menjelaskan pula bahwa dari sejumlah pengertian feature yang ada, dapat ditemukan beberapa ciri khas tulisan feature, antara lain:
1. Mengandung segi human interest
Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi-menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touch-menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard news (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran.
1. Mengandung unsur sastra
Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel-bacaan ringan dan menyenangkan-namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.
Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment) sebuah surat kabar.
Jenis-Jenis Feature
Kamu kudu ngeh juga dong dengan jenis-jenis feature, di antaranya adalah:
1. Feature berita yang lebih banyak mengandung unsur berita, berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight news. Misalnya, menulis berita tentang persiapan penyerangan AS ke Irak. Untuk menulis berita tersebut yang kental unsur feature-nya, bisa cerita tentang kondisi para serdadu AS yang dikirim ke kawasan Teluk, kekuatan mesin-mesin perang AS dan Irak, atau bisa juga bercerita tentang keluarga tentara yang ditinggalkan, bisa juga berkisah tentang rakyat Irak yang menghadapi rencana serangan Amrik tersebut. Banyak hal yang bisa ditulis.
2. Feature artikel yang lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau berkurang aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau kejadian, seseorang, suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur. Misalnya, menulis tentang kondisi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, bolehlah kamu baca jenis tulisan feature tentang itu di buku “Denyut Islam di Eropa” yang diterbitkan oleh Republika. Di situ memuat banyak tulisan jenis feature (sebelumnya pernah dimuat di harian tersebut dalam rubrik Dunia Islam) yang cukup bagus, karena dikemas dengan gaya jurnalistik yang memikat. Buku-buku biografi juga lebih asyik ditulis dengan jenis feature ini.
Oke deh, sekarang kita bahas berdasarkan tipenya. Untuk persoalan ini, feature dapat dibedakan menjadi (ini saya ‘modifikasi’ dari tulisannya Kang Asep Syamsul M. Romli):
1. Feature human interest (langsung sentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan atau kebencian, simpati, dan sebagainya). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, kehidupan seorang petugas kebersihan di jalanan, liku-liku kehidupan seorang guru di daerah terpencil, suka-duka menjadi dai di wilayah pedalaman, atau kisah seorang penjahat yang dapat menimbulkan kejengkelan.
2. Feature pribadi-pribadi menarik atau feature biografi. Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi, atau seseorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi. Itu sebabnya, kamu bisa menuliskan tentang profil para pemimpin Islam di masa lalu, misalnya. Atau kamu juga bisa cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang menemukan angka nol.
3. Feature perjalanan. Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negeri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektivitas menonjol, karena biasanya penulisnya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “aku”, “saya”, atau “kami” (sudut pandang-point of view-orang pertama). Ambil contoh tentang perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan ke tanah suci itu bisa kamu tuangkan dalam sebuah tulisan bergaya feature yang menarik. Itu sebabnya, disarankan untuk membawa buku catatan kecil untuk menuliskan semua peristiwa yang dialami sebagai bahan penulisan. Pokoknya, sip deh.
4. Feature sejarah. Yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa Keruntuhan Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana al-Hamra dan benteng Granada. ‘Melongok’ kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tentang kekejaman tentara Salib saat membantai kaum muslimin, sejarah pertama kali Islam masuk ke Indonesia dan sebagainya. Banyak kok sejarah yang bisa kita tulis dengan jenis feature ini. Pokoknya asyik deh.
5. Feature petunjuk praktis (tips), atau mengajarkan keahlian-how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, seni mendidik anak, panduan memilih perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj, teknik beternak bebek, seni melobi calon mertua (he..he..he..) dan sebagainya.
Inilah feature, lengkap dengan ciri-ciri, jenis dan tipenya. Sehingga, dengan tip sederhana ini kamu udah bisa membedakan mana tulisan yang berupa ‘berita keras’ dan mana yang merupakan ‘berita ringan’ (feature). Sebagai tambahan wawasan tentang feature, silakan baca majalah (sekadar contoh) seperti Intisari dan islamic digest Insani, di sana memuat banyak tulisan berjenis feature yang menarik. Bagaimana teknik menulis feature? Insya Allah saya berikan dalam tip berikutnya. Sekarang, cukup bagi kamu untuk mengenalinya saja. Oke deh, pelajari dulu sampe ngatri (baca: ngerti) [O. Solihin]
sumber: http://osolihin.wordpress.com
LPM OikonomiA adalah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Fakultas (UKMF) FE Unnes. UKM ini bergerak dalam dunia pers dan penerbitan kampus
Jumat, 09 April 2010
'libido' menulis saya
KabarIndonesia – Saya mempunyai ibu yang (ketika itu) pemarah. Dia paling tidak suka mendengar suara ‘tak tik tuk’ mesin tik tua saya ketika hasrat menulis saya tiba-tiba muncul. Kadang pula saya harus sembunyi-sembunyi di rumah agar ibu tidak mengetahui atau mendengar saya lagi menulis.
Ya, begitulah ibu saya. Tapi dia adalah ibu yang baik dan sangat penyayang pada anak-anaknya. Mungkin, ketika itu ibu belum tahu apa manfaat saya menulis–yang akhirnya sekarang setelah kebutuhan keluarga saya yang menanggungnya-ibu menikmati hasil jerih payah saya dari menulis.
Saya menulis sejak masih duduk di kelas 2 SLTP. Hampir tiap hari saya iseng duduk di toko koran/majalah di dekat rumah saya hanya sekedar untuk membolak-balik isi koran/majalah terbaru yang saya lihat. Kadang pula saya dimarahi oleh si pemilik toko karena tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk keuntungannya. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyengir mencibir lalu kabur untuk datang ke toko buku lainnya yang menjual majalah atau koran. Begitulah hari-hari yang saya jalani. Belasan tahun lalu.
Begitu pula ketika saya harus di ‘demo’ teman-teman sekolah karena saya ketika itu menolak menjadi pengurus Majalah Dinding (Mading). Tapi karena diiming-imingi akan didukung menjadi ketua OSIS, akhirnya saya terima juga tawaran itu (He he he…).
Proses menulis saya, berawal ketika saya masih ikut merantau bersama kedua orangtua di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Belasan tahun silam. Di negeri rencong itu saya selalu mencoba mengirimkan tulisan ‘icak-icak’ (asal-asalan) saya ke koran harian Serambi Indonesia yang merupakan media group KOMPAS. Namun, setiap kali saya kirim setiap kali itu pula saya harus “berbangga” karena tulisan saya TIDAK PERNAH DIMUAT!.
Meski demikian, saya tidak menyerah. Lalu akhirnya saya terus berproses. Kalau tidak salah ingat, tulisan pertama saya hanya sebuah puisi satu bait berjudul TUA. Lalu saya coba menulis cerpen perdana berjudul “Ketika Merpati Itu Pergi”. Ya, maklumlah ketika itu saya masih ABG dan baru mengenal yang namanya virus merah jambu bernama cinta. Cerpen-cerpen saya selanjutnya mengisahkan tentang “aku, dia, dan kita”, cerita ala kehidupan remaja yang baru mengenal dunia.
Usai menulis puisi dan cerpen yang tak dimuat-muat, akhirnya saya coba menulis artikel yang kata orang susah. Ketika itu saya tidak mengerti bagaimana menulis artikel. Ya, lalu saya coba menyadur sebuah cerita bergambar (cergam) berjudul “Dajjal”, yang saya rubah judulnya menjadi “Menyingkap Makna Dajjal”. Iseng lagi saya kirim ke harian Serambi Indonesia yang berkantor di Banda Aceh. Eh, entah kebetulan entah tidak, artikel saya itu dimuat. Luar biasa!.
Duh, senangnya saya ketika itu. Artikel itu saya kliping dan saya perlihatkan sama siapa saja yang saya kenal. Ada yang memuji saya, ada pula yang cuma tersenyum. Katanya, “baru sekali saja tulisan dimuat senangnya seisi dunia,” katanya. He he he. Belum tau dia, saya akan menjadi penulis terkenal dunia masa depan. He, he, he, amin …
Setamat sekolah menengah, saya coba melamar kerja menjadi wartawan. Tidak diterima. Karena masih muda, katanya. Namun saya terus menulis. Awal 2000 saya hijrah ke Padang Sumatera Barat, gudangnya para penulis Nusantara. Di Ranah Minang itu saya banyak belajar dengan siapa saja. Dan, saya terus menulis di media-media massa terbitan Padang.
Lalu, saya coba melamar lagi menjadi wartawan sambil mencoba menyelesaikan kuliah. Ada beberapa koran mingguan yang menerima saya. Tapi saya tidak betah. Ternyata jadi wartawan itu susah. Tapi saya tidak menyerah. Meski kadang makan kadang tidak, saya tetap jadi wartawan. Lalu, saya terus bermeditasi merenungi mau jadi apa saya. Tapi hasil dari meditasi itu saya disuruh untuk tetap jadi wartawan. (Mungkin sudah nasib saya, ya). Ya, kalau begitu saya harus siap-siap lagi untuk tidak makan-walau sekarang makan saya paling banyak (Ha ha ha ha…).
Tapi, setelah menjadi wartawan benaran, saya merasakan indahnya dunia wartawan.
Saya tidak pernah membayangkan bisa menyinggahi kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara–walau sekedar ditugaskan meliput bersama rombongan pejabat, khususnya wakil rakyat di DPRD yang suka kunker sana sini-dan saya merasakan pula banyak menemui hal-hal baru yang mungkin belum tentu saya dapatkan jika bekerja di profesi lainnya.
Lalu, saya juga banyak belajar dengan berbagai nara sumber yang saya temui. Dan yang terpenting, saya punya banyak kawan, banyak ilmu dan juga, mudah-mudahan akan banyak uang. Amin lagi …
Sekarang saya diamanahkan menjadi Kepala Perwakilan Harian Haluan Biro Bukittinggi, Sumatera Barat. Memang masih sangat baru. Tapi ini sebuah tantangan baru buat saya. Dan, juga sebuah peluang yang sangat menjanjikan masa depan hidup saya sebagai jurnalis sejati.
Di samping menjadi wartawan, saya juga terus aktif menulis puisi dan cerpen-cerpen yang saya kirimkan ke media-media di luar Sumatera Barat. Honornya lumayan walau hanya sekedar untuk bayar hutang.
Ya, begitulah tentang proses saya punya ‘libido’ menulis yang tinggi. Hasrat saya memang menggebu-gebu. Kadang saya harus “bercinta” dengan komputer selama semalaman hanya untuk mengharapkan mencapai ‘klimaks’ hasil karya-karya saya. Dan, entah kebetulan atau memang saya lagi beruntung, redaksi HOKI mengamanahi saya pula menjadi Citizen Reporter koran online ini. Februari 2007 silam. Saya terima, dan saya pun mencoba belajar kembali untuk menjadi orang biasa, yang sebenarnya saya memang juga orang biasa. Begitulah. ***
(Tulisan ini sebagai motivasi untuk para penulis dan wartawan pemula yang sering jenuh ketika harus menulis. Jangan menyerah. Tulisan Anda hari ini, kelak, akan menjadi bagian dari lembaran sejarah kehidupan Anda sebagai penulis dunia).
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com
Ya, begitulah ibu saya. Tapi dia adalah ibu yang baik dan sangat penyayang pada anak-anaknya. Mungkin, ketika itu ibu belum tahu apa manfaat saya menulis–yang akhirnya sekarang setelah kebutuhan keluarga saya yang menanggungnya-ibu menikmati hasil jerih payah saya dari menulis.
Saya menulis sejak masih duduk di kelas 2 SLTP. Hampir tiap hari saya iseng duduk di toko koran/majalah di dekat rumah saya hanya sekedar untuk membolak-balik isi koran/majalah terbaru yang saya lihat. Kadang pula saya dimarahi oleh si pemilik toko karena tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk keuntungannya. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyengir mencibir lalu kabur untuk datang ke toko buku lainnya yang menjual majalah atau koran. Begitulah hari-hari yang saya jalani. Belasan tahun lalu.
Begitu pula ketika saya harus di ‘demo’ teman-teman sekolah karena saya ketika itu menolak menjadi pengurus Majalah Dinding (Mading). Tapi karena diiming-imingi akan didukung menjadi ketua OSIS, akhirnya saya terima juga tawaran itu (He he he…).
Proses menulis saya, berawal ketika saya masih ikut merantau bersama kedua orangtua di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Belasan tahun silam. Di negeri rencong itu saya selalu mencoba mengirimkan tulisan ‘icak-icak’ (asal-asalan) saya ke koran harian Serambi Indonesia yang merupakan media group KOMPAS. Namun, setiap kali saya kirim setiap kali itu pula saya harus “berbangga” karena tulisan saya TIDAK PERNAH DIMUAT!.
Meski demikian, saya tidak menyerah. Lalu akhirnya saya terus berproses. Kalau tidak salah ingat, tulisan pertama saya hanya sebuah puisi satu bait berjudul TUA. Lalu saya coba menulis cerpen perdana berjudul “Ketika Merpati Itu Pergi”. Ya, maklumlah ketika itu saya masih ABG dan baru mengenal yang namanya virus merah jambu bernama cinta. Cerpen-cerpen saya selanjutnya mengisahkan tentang “aku, dia, dan kita”, cerita ala kehidupan remaja yang baru mengenal dunia.
Usai menulis puisi dan cerpen yang tak dimuat-muat, akhirnya saya coba menulis artikel yang kata orang susah. Ketika itu saya tidak mengerti bagaimana menulis artikel. Ya, lalu saya coba menyadur sebuah cerita bergambar (cergam) berjudul “Dajjal”, yang saya rubah judulnya menjadi “Menyingkap Makna Dajjal”. Iseng lagi saya kirim ke harian Serambi Indonesia yang berkantor di Banda Aceh. Eh, entah kebetulan entah tidak, artikel saya itu dimuat. Luar biasa!.
Duh, senangnya saya ketika itu. Artikel itu saya kliping dan saya perlihatkan sama siapa saja yang saya kenal. Ada yang memuji saya, ada pula yang cuma tersenyum. Katanya, “baru sekali saja tulisan dimuat senangnya seisi dunia,” katanya. He he he. Belum tau dia, saya akan menjadi penulis terkenal dunia masa depan. He, he, he, amin …
Setamat sekolah menengah, saya coba melamar kerja menjadi wartawan. Tidak diterima. Karena masih muda, katanya. Namun saya terus menulis. Awal 2000 saya hijrah ke Padang Sumatera Barat, gudangnya para penulis Nusantara. Di Ranah Minang itu saya banyak belajar dengan siapa saja. Dan, saya terus menulis di media-media massa terbitan Padang.
Lalu, saya coba melamar lagi menjadi wartawan sambil mencoba menyelesaikan kuliah. Ada beberapa koran mingguan yang menerima saya. Tapi saya tidak betah. Ternyata jadi wartawan itu susah. Tapi saya tidak menyerah. Meski kadang makan kadang tidak, saya tetap jadi wartawan. Lalu, saya terus bermeditasi merenungi mau jadi apa saya. Tapi hasil dari meditasi itu saya disuruh untuk tetap jadi wartawan. (Mungkin sudah nasib saya, ya). Ya, kalau begitu saya harus siap-siap lagi untuk tidak makan-walau sekarang makan saya paling banyak (Ha ha ha ha…).
Tapi, setelah menjadi wartawan benaran, saya merasakan indahnya dunia wartawan.
Saya tidak pernah membayangkan bisa menyinggahi kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara–walau sekedar ditugaskan meliput bersama rombongan pejabat, khususnya wakil rakyat di DPRD yang suka kunker sana sini-dan saya merasakan pula banyak menemui hal-hal baru yang mungkin belum tentu saya dapatkan jika bekerja di profesi lainnya.
Lalu, saya juga banyak belajar dengan berbagai nara sumber yang saya temui. Dan yang terpenting, saya punya banyak kawan, banyak ilmu dan juga, mudah-mudahan akan banyak uang. Amin lagi …
Sekarang saya diamanahkan menjadi Kepala Perwakilan Harian Haluan Biro Bukittinggi, Sumatera Barat. Memang masih sangat baru. Tapi ini sebuah tantangan baru buat saya. Dan, juga sebuah peluang yang sangat menjanjikan masa depan hidup saya sebagai jurnalis sejati.
Di samping menjadi wartawan, saya juga terus aktif menulis puisi dan cerpen-cerpen yang saya kirimkan ke media-media di luar Sumatera Barat. Honornya lumayan walau hanya sekedar untuk bayar hutang.
Ya, begitulah tentang proses saya punya ‘libido’ menulis yang tinggi. Hasrat saya memang menggebu-gebu. Kadang saya harus “bercinta” dengan komputer selama semalaman hanya untuk mengharapkan mencapai ‘klimaks’ hasil karya-karya saya. Dan, entah kebetulan atau memang saya lagi beruntung, redaksi HOKI mengamanahi saya pula menjadi Citizen Reporter koran online ini. Februari 2007 silam. Saya terima, dan saya pun mencoba belajar kembali untuk menjadi orang biasa, yang sebenarnya saya memang juga orang biasa. Begitulah. ***
(Tulisan ini sebagai motivasi untuk para penulis dan wartawan pemula yang sering jenuh ketika harus menulis. Jangan menyerah. Tulisan Anda hari ini, kelak, akan menjadi bagian dari lembaran sejarah kehidupan Anda sebagai penulis dunia).
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com
Menulis itu sulit
Selintas, saat tahun 2003 saya pernah menulis sebuah cerpen di sebuah harian surat kabar yang terkenal di Jawa Timur. Untuk awal pertama kali menulis, saya begitu mudah mengalirkan ide cerita yang begitu cepat. Padahal saat itu saya hanya iseng-isengan mencoba untuk mengkreasikan alam bawah sadar, dalam bingkai kertas. Cerpen yang saya buat dimuat oleh redaksi harian surat kabar tersebut. Walaupun mungkin, cerpen saya dianggap berhubungan dengan bom yang meledak di bali. Saya sangat gembira.
Kegembiraan itu akhirnya membuat saya giat dalam belajar masalah penulisan. Maklum, saat itu masih menjadi mahasiswa yang kekurangan biaya. Walaupun sekarang, kekurangan materi masih sering saya rasakan. Semua tulisan yang saya buat terkirim disetiap harian surat kabar maupun majalah. Alhamdulillah, hasilnya NOL! Tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat oleh semua media tersebut.
Namun semangat saya tetap membara. Buku-buku seperti novel, cerpen, pengembangan penulisan, dengan mudah saya lahap habis. Guna untuk memuluskan jalan agar tulisan-tulisan yang saya buat bisa dimuat disetiap media. Mimpi-mimpi menjadi penulis terkenal, mempunyai buku-buku yang sudah diterbitkan, serta menjadi kaya dalam menulis. Terpatri dalam otak saya kala itu. “Yah, saya bisa kaya dengan menulis!” ucap saya saat itu.
Kekurangan uang menjadi alasan bagi saya untuk bisa menjadi penulis. Karena saat itu, saya menganggap menulis itu mudah. Sekali terbit bisa mendapatkan ratusan ribu. Walaupun pengetahuan tentang penulisan saat itu memang minim sekali, saya tetap semangat. Lambat laun, artikel maupun cerpen-cerpen yang saya tulis begitu banyak. Mungkin jika Boks folder bisa ngomong akan mengatakan “AMPUN…..” dan sampai saat itu masih belum ada media cetak yang sudi untuk mau memuat tulisan-tulisan yang saya buat. Bahkan media lokal yang notabene mencari penulis pun, tidak sudi menerbitkan tulisan saya!
Hingga akhirnya, saya mencoba untuk menerobos media cetak kampus. Dengan berbekal kebanggaan cerpen saya yang pernah dimuat oleh surat kabar harian yang terkenal. Tulisan-tulisan yang saya hasilkan, akhirnya dimuat dengan mudah. Honor melaju cepat, hingga saking cepatnya honor tidak pernah saya dapatkan dari menulis artikel maupun cerpen di media kampus. Hinggga saya frustasi. Dengan modal frustasi, saya menulis sebuah cerpen yang akhirnya dimuat oleh majalah remaja Islam. Berbunga-bunga saat itu menanti honor yang akan dikirim kealamat rumah saya. Tetapi setelah perasaan berbunga-bunga untuk menunggu itu hilang, barulah honor penulisan tersebut terkirim!
Lalu saya bertekad untuk membuat novel. Karena bila novel saya bisa tembus di penerbit buku, maka saya bisa mempunyai honor yang sangat banyak, Dengan ketekunan saya menulis kata-kata hingga masuk dalam beberapa Bab. Saya bisa menulis tiga novel, yang setelah itu saya kirimkan pada beberapa penerbit. Hingga akhirnya ada salah satu penerbit yang bersedia untuk menerbitkan novel pertama saya. Dan akhirnya, saya masih menunggu sampai sekarang kepastian keseriusan penerbit tersebut untuk mau menerbitkan novel saya. Jadi, menulis itu sulit! Tetapi saat kita tidak menulis malah lebih sulit. Akhirnya sekarang, saya tidak butuh para penerbit memuat tulisan saya. Saya lebih senang jika saya masih bisa menulis, saya lebih senang jika tulisan saya dibaca oleh teman-teman saya. Karena saya sekarang menulis bukan untuk uang, saya menulis karena saya ingin menulis. Sebab menulis itu membuat hidup kita menjadi penulis!
Maka saran saya :
1. Menulislah walaupun tulisanmu dihujat, dimaki, dicaci bahkan dihina.
2. Menulislah walaupun tulisanmu dipuja, disenangi banyak orang.
3. Menulislah walaupun tulisanmu tidak dimuat oleh media cetak.
4. Menulislah walaupun tulisanmu dimuat olah media cetak.
5. Menulislah walaupun Penulislepas.com menolak tulisanmu.
6. Menulislah walaupun Penulislepas.com menerima tulisanmu.
7. Menulislah sebelum tinta kehidupanmu habis oleh kikisan jaman.
Maka, menulislah!
sumber : penulislepas.com
Kegembiraan itu akhirnya membuat saya giat dalam belajar masalah penulisan. Maklum, saat itu masih menjadi mahasiswa yang kekurangan biaya. Walaupun sekarang, kekurangan materi masih sering saya rasakan. Semua tulisan yang saya buat terkirim disetiap harian surat kabar maupun majalah. Alhamdulillah, hasilnya NOL! Tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat oleh semua media tersebut.
Namun semangat saya tetap membara. Buku-buku seperti novel, cerpen, pengembangan penulisan, dengan mudah saya lahap habis. Guna untuk memuluskan jalan agar tulisan-tulisan yang saya buat bisa dimuat disetiap media. Mimpi-mimpi menjadi penulis terkenal, mempunyai buku-buku yang sudah diterbitkan, serta menjadi kaya dalam menulis. Terpatri dalam otak saya kala itu. “Yah, saya bisa kaya dengan menulis!” ucap saya saat itu.
Kekurangan uang menjadi alasan bagi saya untuk bisa menjadi penulis. Karena saat itu, saya menganggap menulis itu mudah. Sekali terbit bisa mendapatkan ratusan ribu. Walaupun pengetahuan tentang penulisan saat itu memang minim sekali, saya tetap semangat. Lambat laun, artikel maupun cerpen-cerpen yang saya tulis begitu banyak. Mungkin jika Boks folder bisa ngomong akan mengatakan “AMPUN…..” dan sampai saat itu masih belum ada media cetak yang sudi untuk mau memuat tulisan-tulisan yang saya buat. Bahkan media lokal yang notabene mencari penulis pun, tidak sudi menerbitkan tulisan saya!
Hingga akhirnya, saya mencoba untuk menerobos media cetak kampus. Dengan berbekal kebanggaan cerpen saya yang pernah dimuat oleh surat kabar harian yang terkenal. Tulisan-tulisan yang saya hasilkan, akhirnya dimuat dengan mudah. Honor melaju cepat, hingga saking cepatnya honor tidak pernah saya dapatkan dari menulis artikel maupun cerpen di media kampus. Hinggga saya frustasi. Dengan modal frustasi, saya menulis sebuah cerpen yang akhirnya dimuat oleh majalah remaja Islam. Berbunga-bunga saat itu menanti honor yang akan dikirim kealamat rumah saya. Tetapi setelah perasaan berbunga-bunga untuk menunggu itu hilang, barulah honor penulisan tersebut terkirim!
Lalu saya bertekad untuk membuat novel. Karena bila novel saya bisa tembus di penerbit buku, maka saya bisa mempunyai honor yang sangat banyak, Dengan ketekunan saya menulis kata-kata hingga masuk dalam beberapa Bab. Saya bisa menulis tiga novel, yang setelah itu saya kirimkan pada beberapa penerbit. Hingga akhirnya ada salah satu penerbit yang bersedia untuk menerbitkan novel pertama saya. Dan akhirnya, saya masih menunggu sampai sekarang kepastian keseriusan penerbit tersebut untuk mau menerbitkan novel saya. Jadi, menulis itu sulit! Tetapi saat kita tidak menulis malah lebih sulit. Akhirnya sekarang, saya tidak butuh para penerbit memuat tulisan saya. Saya lebih senang jika saya masih bisa menulis, saya lebih senang jika tulisan saya dibaca oleh teman-teman saya. Karena saya sekarang menulis bukan untuk uang, saya menulis karena saya ingin menulis. Sebab menulis itu membuat hidup kita menjadi penulis!
Maka saran saya :
1. Menulislah walaupun tulisanmu dihujat, dimaki, dicaci bahkan dihina.
2. Menulislah walaupun tulisanmu dipuja, disenangi banyak orang.
3. Menulislah walaupun tulisanmu tidak dimuat oleh media cetak.
4. Menulislah walaupun tulisanmu dimuat olah media cetak.
5. Menulislah walaupun Penulislepas.com menolak tulisanmu.
6. Menulislah walaupun Penulislepas.com menerima tulisanmu.
7. Menulislah sebelum tinta kehidupanmu habis oleh kikisan jaman.
Maka, menulislah!
sumber : penulislepas.com
Langganan:
Komentar (Atom)