Jumat, 09 April 2010

Menulis itu sulit

Selintas, saat tahun 2003 saya pernah menulis sebuah cerpen di sebuah harian surat kabar yang terkenal di Jawa Timur. Untuk awal pertama kali menulis, saya begitu mudah mengalirkan ide cerita yang begitu cepat. Padahal saat itu saya hanya iseng-isengan mencoba untuk mengkreasikan alam bawah sadar, dalam bingkai kertas. Cerpen yang saya buat dimuat oleh redaksi harian surat kabar tersebut. Walaupun mungkin, cerpen saya dianggap berhubungan dengan bom yang meledak di bali. Saya sangat gembira.

Kegembiraan itu akhirnya membuat saya giat dalam belajar masalah penulisan. Maklum, saat itu masih menjadi mahasiswa yang kekurangan biaya. Walaupun sekarang, kekurangan materi masih sering saya rasakan. Semua tulisan yang saya buat terkirim disetiap harian surat kabar maupun majalah. Alhamdulillah, hasilnya NOL! Tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat oleh semua media tersebut.

Namun semangat saya tetap membara. Buku-buku seperti novel, cerpen, pengembangan penulisan, dengan mudah saya lahap habis. Guna untuk memuluskan jalan agar tulisan-tulisan yang saya buat bisa dimuat disetiap media. Mimpi-mimpi menjadi penulis terkenal, mempunyai buku-buku yang sudah diterbitkan, serta menjadi kaya dalam menulis. Terpatri dalam otak saya kala itu. “Yah, saya bisa kaya dengan menulis!” ucap saya saat itu.

Kekurangan uang menjadi alasan bagi saya untuk bisa menjadi penulis. Karena saat itu, saya menganggap menulis itu mudah. Sekali terbit bisa mendapatkan ratusan ribu. Walaupun pengetahuan tentang penulisan saat itu memang minim sekali, saya tetap semangat. Lambat laun, artikel maupun cerpen-cerpen yang saya tulis begitu banyak. Mungkin jika Boks folder bisa ngomong akan mengatakan “AMPUN…..” dan sampai saat itu masih belum ada media cetak yang sudi untuk mau memuat tulisan-tulisan yang saya buat. Bahkan media lokal yang notabene mencari penulis pun, tidak sudi menerbitkan tulisan saya!

Hingga akhirnya, saya mencoba untuk menerobos media cetak kampus. Dengan berbekal kebanggaan cerpen saya yang pernah dimuat oleh surat kabar harian yang terkenal. Tulisan-tulisan yang saya hasilkan, akhirnya dimuat dengan mudah. Honor melaju cepat, hingga saking cepatnya honor tidak pernah saya dapatkan dari menulis artikel maupun cerpen di media kampus. Hinggga saya frustasi. Dengan modal frustasi, saya menulis sebuah cerpen yang akhirnya dimuat oleh majalah remaja Islam. Berbunga-bunga saat itu menanti honor yang akan dikirim kealamat rumah saya. Tetapi setelah perasaan berbunga-bunga untuk menunggu itu hilang, barulah honor penulisan tersebut terkirim!

Lalu saya bertekad untuk membuat novel. Karena bila novel saya bisa tembus di penerbit buku, maka saya bisa mempunyai honor yang sangat banyak, Dengan ketekunan saya menulis kata-kata hingga masuk dalam beberapa Bab. Saya bisa menulis tiga novel, yang setelah itu saya kirimkan pada beberapa penerbit. Hingga akhirnya ada salah satu penerbit yang bersedia untuk menerbitkan novel pertama saya. Dan akhirnya, saya masih menunggu sampai sekarang kepastian keseriusan penerbit tersebut untuk mau menerbitkan novel saya. Jadi, menulis itu sulit! Tetapi saat kita tidak menulis malah lebih sulit. Akhirnya sekarang, saya tidak butuh para penerbit memuat tulisan saya. Saya lebih senang jika saya masih bisa menulis, saya lebih senang jika tulisan saya dibaca oleh teman-teman saya. Karena saya sekarang menulis bukan untuk uang, saya menulis karena saya ingin menulis. Sebab menulis itu membuat hidup kita menjadi penulis!

Maka saran saya :

1. Menulislah walaupun tulisanmu dihujat, dimaki, dicaci bahkan dihina.
2. Menulislah walaupun tulisanmu dipuja, disenangi banyak orang.
3. Menulislah walaupun tulisanmu tidak dimuat oleh media cetak.
4. Menulislah walaupun tulisanmu dimuat olah media cetak.
5. Menulislah walaupun Penulislepas.com menolak tulisanmu.
6. Menulislah walaupun Penulislepas.com menerima tulisanmu.
7. Menulislah sebelum tinta kehidupanmu habis oleh kikisan jaman.

Maka, menulislah!

sumber : penulislepas.com


Tidak ada komentar: